Pemerintah Kabupaten Wonogiri
.:: Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Wonogiri ::.
Berita

Empat acara besar sekaligus dihelat Pemkab Wonogiri secara bersamaan di Kompleks Sendang Asri Waduk Gajah Mungkur (WGM), Rabu (13/9). Yakni upacara peringatan Haornas ke-28, upacara peringatan Hari Aksara Internasional ke-46, pembukaan Kejurnas Paralayang dan puncak syawalan (Prosesi Kupatan).

Ribuan peserta upacara berasal dari PNS di Pemkab Wonogiri, TNI/Polri, pelajar, dan atlet kejurnas. Dalam kesempatan tersebut Bupati Wonogiri H. Danar Rahmanto menekankan pentingnya mewujudkan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup manusia modern yang sehat. Karena dengan olahraga hidup menjadi sehat, gembira, dan kerja jadi lebih produktif.

“Karena itu, kepada para orang tua dan segenap komponen masyarakat, ajak dan dukunglah anak-anak kita untuk berolahraga. Kepada para guru, jadikan olahraga sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa. Pastikan ada guru olahraga yang kompeten di setiap sekolah dan madrasah, yang secara periodik mengadakan kompetisi antar siswa dan antar sekolah sebagai sarana pengembangan bibit olahragawan usia dini dan remaja,” ujarnya.


Bupati juga mengingatkan pentingnya menggelorakan jam krida olahraga pada hari Jum’at yang telah dicanangkan sejak lama di lingkungan kantor-kantor pemerintah dan swasta. Harapannya, olahraga semakin maju dan tidak ketinggalan oleh kemajuan bangsa pada bidang-bidang lain seperti ekonomi, demokrasi dan teknologi.


Dalam kesempatan tersebut, juga diserahkan berbagai penghargaan juara pertama dari 11 kejuaran, yaitu Lomba Pengelola TBM, Pengelola PKBM, Pengelola Kursus, Pengelola PAUD, Tutor Pendidikan Keaksaraan, Lomba Instruktur Seni Musik, Lomba Penilik, Lomba Guru PAUD, Lomba Instruktur Senam, Lomba PTK PAUDNI, dan Lomba Instruktur Tata Rias Pengantin.

Selesai melaksanakan upacara, peserta dan pengunjung WGM bergerak menuju bibir waduk. Mereka mengikuti acara kupatan (dulu bernama andum ketupat). Sekitar 50 perahu nelayan membawa gunungan ketupat beserta seniman berpakaian kethek ogleng dari karamba Carakan menuju Sendang Asri. Gunungan ketupat tersebut diarak dengan membawakan lakon Rama Tambak sebagai fragmen ceritanya. Prosesi kupatan ini menutup pekan syawalan yang digelar di tempat ini.




Menurut Kepala Disbudparpora Kab. Wonogiri Drs. Pranoto, MM prosesi kupatan merupakan bentuk rasa syukur masyarakat di sekitar WGM. Sedikitnya sekitar 4 ribu ketupat dibagikan secara gratis. “Kalau tahun-tahun sebelumnya ketupat disebar untuk diperebutkan masyarakat, tahun ini sedikit berbeda. Karena ketupat tidak disebar, melainkan disajikan dalam bentuk ketupat plus. Yakni ketupat opor yang bisa dimakan bersama-sama, baik pejabat maupun masyarakat,” jelasnya.


Ditambahkan, ketupat yang dibagikan berasal dari sumbangan sekarela nelayan, pedagang, dan petani yang tinggal di sekitar kawasan WGM. Mereka meyakini bahwa selama ini WGM telah memberikan penghidupan bagi mereka. “Hal ini merupakan tradisi asli masyarakat yang sudah mengakar. Dan kupatan ini merupakan bentuk sodaqoh masyarakat.”


Dari tepi waduk, para pejabat dan masyarakat Wonogiri beramai-ramai menikmati hidangan ketupat plus. Alunan musik gamelan dan tarian daerah mengiringi acara makan bersama yang merupakan salah satu puncak syawalan di Kabupaten Wonogiri. (HUMAS_ESTI SUCI)

 

| dibaca 651 kali | 14/09/2011 00:00 WIB
Total Content : -
Halaman